Ranah gejolak pagi, khalayak embun penyemangat tumbuh elok, nan cendikiawan antara hijaunya anugerah Tuhan. Butiran-butiran penyejuk jiwa bersimpah ruah dalam ruas itu, menandakan dinginnya kalbu mengharu biru. Akankah semua indah pada waktunya ? Akan kah semua sesuai kehendak kita ? Atau kah harus melewati lajur kecil yang disebut perestuan-Nya ?
Desember
07
undefined
Diposting oleh
Fikri Azhar
Category:
Fotografi,
Karya,
macro,
Puisi
0
komentar